Beberapa minggu terakhir ini Facebook kembali menjadi sorotan masyarakat. Kali ini bukan lagi mengenai perjuangan moral para pengguna Facebook terhadap isu-isu sosial di masyarakat. Namun pada efek-efek negatif yang ditimbulkan dari penggunaan Facebook selama ini.

Kasus prostitusi online dan larinya beberapa remaja bersama teman yang dikenalnya melalui Facebook semakin menambah panjangnya daftar hitam penyalahgunaan situs jejaring sosial ini.

Padahal beberapa waktu yang lalu, Facebook mendapatkan sambutan yang luar biasa karena pemanfaatannya untuk membangun kembali jejaring pertemanan yang telah lama jauh, mempermudah transaksi melalui internet, dan mempercepat distribusi informasi.

Popularitas tersebut semakin menjulang karena munculnya gerakan-gerakan sosial di dalam Facebook. Dari ratusan gerakan sosial yang diciptakan, terdapat beberapa gerakan sosial yang mendapatkan dukungan dan publikasi secara luas, diantaranya perjuangan Prita Mulyasari, Bibit-Candra, Bilqis Anindya Passa, dan masih banyak lagi.

Banyaknya media massa yang memberitakan gerakan-gerakan tersebut menyebabkan masyarakat menjadi ingin tahu dan bergabung. Maka tidak heran jika dalam waktu yang singkat, Facebook mencapai popularitasnya. Sampai saat ini telah tercatat 400 juta pengguna Facebook aktif di seluruh dunia.

Lebih dari 11 juta pengguna berasal dari Indonesia. Sehingga Indonesia menempati peringkat pengguna terbanyak ketujuh di seluruh dunia. Meskipun jumlah tersebut sebetulnya tidak mewakili jumlah pengguna sebenarnya. Karena terdapat beberapa pengguna yang membuat lebih dari 1 akun Facebook untuk kepentingan yang berbeda.

Dengan munculnya berbagai kasus penculikan remaja melalui Facebook, tampaknya masyarakat mulai menyadari adanya sisi negatif atas penyalahgunaan Facebook yang makin nyata di hadapan mereka, dan harus diwaspadai.

Anak-anak dan remaja yang kini telah melek dengan teknologi akan menjadi sasaran empuk jika mereka dan para orang tua tidak menyadari atau bahkan justru mengabaikan bahaya tersebut.

Sebab dengan teknologi inilah, ruang sosial tidak lagi dibatasi oleh wilayah. Setiap orang di seluruh dunia bisa saja menjalin komunikasi dan berhubungan dengan putra-putri Anda kapan saja. Tentunya hal ini bukan hanya dapat memperluas pergaulan saja, namun juga memperbesar peluang untuk berkenalan dengan orang-orang yang salah.

Selain karena secara fisik setiap pemilik akun hanya diwakili oleh foto-foto dan video yang diunggah ke dalam Facebook, informasi dan berbagai hal yang ditampilkan di dalamnya belum tentu bisa dipercaya begitu saja. Informasi fiktif mungkin saja ditulis oleh pemilik akun tersebut.

Potensi bagi anak-anak dan remaja untuk diperdayai dan tersesat melalui Facebook atau teknologi yang lain tentunya cukup besar dan mudah terjadi. Mengingat kedewasaan mereka seringkali belum cukup matang dalam mewaspadai hal-hal tersebut. Maka, peran orang tua dan masyarakat di sekitarnya tentunya sangat penting.

Yang menjadi masalah, seringkali anak-anak dan remaja lebih pandai daripada orang tuanya dalam hal penggunaan teknologi. Hal itulah yang membuat para orang tua seringkali merasa kalah terlebih dahulu sebelum berusaha mencoba untuk mengetahui atau mendampingi mereka dalam menggunakan internet.

Kadangkala, karena keterbatasan para orang tua dalam hal tersebut, malah menghambat atau bahkan menutup akses putra-putrinya dalam penggunaan internet. Padahal pada dasarnya, Facebook ataupun yang lain, hanyalah alat bantu yang pemanfaatannya sangat tergantung dari si pengguna. Akan menghasilkan hal-hal yang negatif apabila digunakan secara salah, dan sebaliknya membuahkan output yang positif jika digunakan dengan benar.

Terlibat Aktif

Penerapan solusi yang salah bukan hanya akan memperburuk situasi, tetapi juga akan mempersulit kontrol terhadap putra-putri Anda dalam penggunaan teknologi. Untuk situs-situs Pornografi, sangat dimungkinkan untuk menggunakan perangkat lunak untuk memproteksi dari situs tersebut.

Menutup akses internet di rumah justru akan menyebabkan mereka mencari akses internet di luar. Sehingga pengawasan terhadap penggunaan internet yang sehat akan semakin sulit dilakukan.

Ada baiknya orang tua belajar mengetahui teknologi yang sedang digunakan oleh putra-putri Anda. Salah satu caranya, jika memungkinkan, sebaiknya Anda juga terlibat aktif di dalam Facebook. Bukan hanya tahu teknis penggunaannya saja, tetapi juga mengetahui potensi positif dan negatifnya.

Hal ini sangat diperlukan dalam berkomunikasi pada saat mendampingi mereka. Selain komunikasi bisa terhubung dengan baik, terdapat berbagai hal positif dan negatif yang bisa dibagikan untuk menumbuhkan kewaspadaan mereka dalam pemanfaatan Facebook ataupun teknologi yang lain.

Kedekatan Anda dan anak dalam menggunakan teknologi akan menyebabkan mereka bisa tetap terbuka dan berbagi apabila terjadi berbagai hal yang terkait dengan penggunaan teknologi tersebut. Setiap orang tua bisa saling berbagi dengan pasangan masing-masing untuk menjadi tempat bercerita bagi mereka.

Edukasi dengan menggunakan contoh-contoh kasus yang terjadi saat ini juga bisa disampaikan. Berbagai tip dalam mengenal orang lain, mempertajam kewaspadaan, dan perlunya menjaga privasi terhadap orang-orang yang belum dikenal baik, sangat perlu dibagikan untuk putra-putri Anda.

Namun sebaiknya semua hal tersebut disampaikan secara berimbang serta jauh dari kesan curiga dan menakut-nakuti, agar bisa memperkecil resistensi mereka pada saat mendengarkan masukan-masukan serta tip-tip dalam pemanfaatan teknologi secara bijak. (Penulis adalah dosen Fakultas Ilmu Komputer UNIKA Soegijapranata, Semarang. Saat ini tengah menjalani studi program Doktoral di Assumption University, Bangkok, Thailand)
a href=”http://blogridwan.sanjaya.org/2010/03/

Iklan